India melonggarkan peraturan pengelolaan aset: Industri manajemen portofolio untuk pertama kalinya diizinkan berinvestasi di luar negeri dan melakukan short selling saham
Otoritas pengatur India pada hari Kamis menyatakan akan mengizinkan industri manajemen portofolio senilai 463 miliar dolar AS untuk pertama kalinya berinvestasi pada sekuritas luar negeri dan melakukan short selling pada opsi saham. Hal ini membuka jalur baru bagi kalangan kaya India untuk memasuki pasar global, yang memiliki arti penting bagi aset terkait AI yang menarik minat investor. Selain itu, India juga akan meluncurkan produk manajemen portofolio baru dengan ambang investasi yang rendah.
Pasar sekuritas India mengalami reformasi besar.
Otoritas pengawas pasar India pada hari Kamis mengumumkan, akan memperbolehkan industri pengelolaan portofolio (PMS) senilai 463 miliar dolar AS untuk pertama kalinya berinvestasi di sekuritas luar negeri dan melakukan posisi short selling pada opsi saham, menandai ekspansi penuh kewenangan investasi industri ini.
Dewan Bursa Efek India (SEBI) dalam pernyataan setelah rapat dewan direksi menyebutkan, lembaga pengelolaan portofolio diizinkan untuk berinvestasi pada sekuritas utang yang belum terdaftar, serta dapat mengalokasikan aset klien hingga maksimum 1,25 kali ke produk derivatif yang diperdagangkan di bursa.
Otoritas pengawas juga menyatakan, lembaga pengelolaan portofolio dapat menahan posisi short yang tidak di-hedge dalam batasan yang ditentukan, namun batas maksimum spesifiknya belum diumumkan saat ini.
Reformasi ini membuka jalur baru bagi kalangan kaya India untuk memasuki pasar global, dan memiliki arti penting untuk aset luar negeri yang belakangan ini menjadi perhatian investor akibat tren kecerdasan buatan.
Di saat yang sama, langkah ini juga menghapus hambatan bagi investor portofolio asing (FPI) untuk berpartisipasi di pasar derivatif komoditas non-pertanian dengan penyelesaian non-tunai, yang diprediksi akan semakin meningkatkan aktivitas perdagangan produk terkait.
Kategori Baru dan Pembukaan Pasar Komoditas
SEBI juga mengizinkan peluncuran produk layanan pengelolaan portofolio tipe baru yang ditujukan bagi reksa dana, dengan nilai investasi minimum sebesar 2,5 juta Rupee, hanya setengah dari batas minimum 5 juta Rupee pada produk PMS biasa, sehingga diharapkan mampu menarik lebih banyak kelompok investor berpartisipasi.
Di sektor komoditas, SEBI memperbolehkan investor portofolio asing berpartisipasi dalam perdagangan derivatif komoditas non-pertanian dengan penyelesaian non-tunai—dianggap sebagai reformasi paling signifikan pada kategori ini hingga saat ini.
Otoritas pengawas menegaskan, FPI harus memastikan menutup posisi sebelum muncul kewajiban penyerahan fisik. Langkah ini diperkirakan akan membawa lebih banyak dana institusi ke pasar derivatif komoditas, yang keterlibatan investor ritel telah meningkat tajam belakangan ini, sehingga memperdalam likuiditas pasar.
Latar Belakang Industri: Skala Pengelolaan Aset Tumbuh Pesat Dalam Dua Tahun
Reformasi ini menargetkan sektor yang dalam beberapa tahun terakhir tumbuh pesat.
Berdasarkan data SEBI, hingga Agustus tahun ini, total aset yang dikelola lembaga pengelolaan portofolio India sekitar 44,4 triliun Rupee (setara dengan 463 miliar dolar AS), naik signifikan dari 40 triliun Rupee setahun sebelumnya, dan sejak 2020 skalanya sudah meningkat lebih dari dua kali lipat.
Seiring dengan meningkatnya permintaan kalangan kaya India terhadap produk investasi yang profesional dan terspesialisasi, tren pertumbuhan industri ini diperkirakan akan bertahan dalam jangka pendek.
Perubahan aturan ini berasal dari draf konsultasi yang dirilis SEBI pada Juli tahun ini, dan implementasi resmi kali ini menandai peningkatan sistemik pada kerangka kebijakan terkait.
Investasi Luar Negeri: Pelemahan Rupee Jadi Kekhawatiran
Sesuai pengaturan SEBI, investasi ekuitas dan utang luar negeri oleh lembaga pengelolaan portofolio akan dilakukan di bawah kerangka "Liberalized Remittance Scheme"—mekanisme yang memperbolehkan warga India mentransfer hingga 250 ribu dolar AS ke luar negeri tiap tahun fiskal.
Saat ini, investor individu India sudah dapat berinvestasi di luar negeri melalui jalur tersebut, sementara industri reksa dana sebelumnya pernah memperoleh kuota investasi luar negeri sebesar 7 miliar dolar AS, namun sudah habis dalam beberapa tahun terakhir.
Patut dicatat, momen pembukaan investasi luar negeri ini jatuh pada waktu yang cukup rentan—Rupee India belakangan melemah terhadap dolar AS akibat arus modal asing keluar yang berkelanjutan. Jika terjadi aliran dana keluar dalam volume besar, maka kemungkinan akan memberi tekanan tambahan pada nilai tukar, dan ini merupakan risiko potensial yang perlu dicermati pasar.
Disclaimer: Konten pada artikel ini hanya merefleksikan opini penulis dan tidak mewakili platform ini dengan kapasitas apa pun. Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai referensi untuk membuat keputusan investasi.
