Mengutip CNBC, Kamis (15/10/2026), harga minyak mentah Brent, yang menjadi acuan internasional, naik 37 sen menjadi US$ 106,06 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) menguat 95 sen ke posisi US$ 95,09 per barel.
Dalam laporan pasar minyak Oktober yang dirilis Rabu, IEA memperingatkan bahwa keterbatasan pasokan solar berpotensi berlanjut hingga 2027. Serangan terbaru terhadap Arab Saudi juga mengancam pemulihan pasokan minyak global.
Advertisement
Konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran terus meningkat. Kementerian Energi Arab Saudi menyatakan sebuah gedung administrasi milik perusahaan minyak raksasa Saudi Aramco diserang.
Tidak ada korban luka dalam insiden di Dhahran, kota di pesisir timur Arab Saudi tersebut.
Serangan itu menyusul rangkaian serangan Houthi terhadap Riyadh selama sepekan terakhir, termasuk serangan mematikan di bandara internasional ibu kota Arab Saudi tersebut.
Ketegangan Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pasokan
Menurut laporan Al Jazeera, terminal energi dan cadangan bahan bakar milik Houthi di Yaman diserang koalisi pimpinan Arab Saudi. Namun, seorang juru bicara menyatakan pihaknya telah mengambil langkah pencegahan untuk menghindari kerusakan tambahan terhadap warga sipil.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran juga masih berlanjut, menambah kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.
Komando Pusat AS (CENTCOM) membantah pernyataan komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran yang mengklaim Selat Hormuz berada di bawah kendali Iran. Komandan tersebut juga mengancam kapal perang AS yang mendekat akan ditenggelamkan.
“Komandan angkatan laut IRGC tidak memiliki angkatan laut,” tulis CENTCOM melalui akun X, seraya menambahkan bahwa pasukan Amerika dan mitra regional jelas mengendalikan Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis bagi perdagangan minyak dunia. Gangguan di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi distribusi energi dan mendorong kenaikan harga minyak.
Advertisement
Harga Minyak Berpotensi Naik Lagi US$ 25
Manajer hedge fund sekaligus investor komoditas Paul Tudor Jones memperkirakan harga minyak masih berpeluang naik US$ 20 hingga US$ 25 per barel akibat konflik Iran.
“Saya mengambil posisi beli minyak... optimistis terhadap minyak... Saya pikir harganya bisa naik lagi US$ 20 atau US$ 25,” kata pendiri sekaligus kepala investasi Tudor Investment tersebut dalam program Squawk Box CNBC.
Jones juga menilai peluang meredanya konflik dalam waktu dekat semakin terbatas.
“Jika sesuatu untuk meredakan situasi akan terjadi, hal itu seharusnya sudah terjadi sebelum pemilihan paruh waktu,” tambahnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap risiko geopolitik yang dapat mengganggu pasokan energi. Di sisi lain, peringatan IEA mengenai keterbatasan pasokan solar hingga 2027 menambah perhatian investor terhadap prospek pasar minyak global.
Pergerakan harga selanjutnya akan dipengaruhi perkembangan konflik di Timur Tengah, kondisi pasokan, serta upaya meredakan ketegangan di kawasan tersebut.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6


